A.
PENGARUH TEKNOLOGI KOMUNIKASI
TERHADAP TELEVISI
SEJARAH TELEVISI
Kata televisi berasal
dari kata tele dan visio, tele dari bahasa yunani yang berarti jauh dan visio / vision dari bahasa latin
yang berarti tampak atau penglihatan. Jadi televisi berarti
tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan
dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di
Indonesia 'televisi' secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau
tipi.
Televisi berawal dari sebuah penemuan dasar, yaitu hukum Gelombang Elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang
merupakan awal dari era komunikasi elektronik. Pada tahun 1873 seorang operator telegram
menemukan bahwa cahaya mempengaruhi resistansi elektris selenium. Ia menyadari
itu bisa digunakan untuk mengubah cahaya kedalam arus listrik dengan
menggunakan fotosel silenium
(selenium photocell).
Berikut sejarah
perkembangan televisi :
Pada tahun 1873 seorang operator telegram
asal Valentia, Irlandia yang bernama Joseph May menemukan bahwa cahaya
mempengaruhi resistansi elektris selenium. Ia menyadari itu bisa digunakan
untuk mengubah cahaya kedalam arus listrik dengan menggunakan fotosel silenium
(selenium photocell). Joseph May bersama Willoughby Smith (teknisi
dari Telegraph Construction Maintenance Company) melakukan beberapa
percobaan yang selanjutnya dilaporkan pada Journal of The Society of
Telegraph Engineers. Hal ini merupakan embrio dari teknologi perekaman
gambar.
Setelah beberapa kurun waktu lamanya kemudian diciptakan
sebuah piringan metal kecil yang bisa berputar dengan lubang-lubang didalamnya
oleh seorang mahasiswa yang bernama Julius Paul Gottlieb Nipkow
(1860-1940) atau lebih dikenal Paul Nipkow di Berlin, Jerman pada tahun
1884 dan disebut sebagai cikal bakal lahirnya televisi. Sekitar tahun 1920 John
Logie Baird (1888-1946) dan Charles Francis Jenkins (1867- 1934)
menggunakan piringan karya Paul Nipkow untuk menciptakan suatu sistem dalam
penangkapan gambar, transmisi, serta penerimaannya. Mereka membuat seluruh
sistem televisi ini berdasarkan sistem gerakan mekanik, baik dalam penyiaran
maupun penerimaannya. Pada waktu itu belum ditemukan komponen listrik tabung
hampa (Cathode Ray Tube).
Televisi elektronik agak tersendat perkembangannya pada
tahun-tahun itu, lebih banyak disebabkan karena televisi mekanik lebih murah
dan tahan banting. Bukan itu saja, tetapi juga sangat susah untuk mendapatkan
dukungan finansial bagi riset TV elektronik ketika TV mekanik dianggap sudah
mampu bekerja dengan sangat baiknya pada masa itu. Sampai akhirnya Vladimir
Kosmo Zworykin (1889-1982) dan Philo T. Farnsworth (1906-1971)
berhasil dengan TV elektroniknya. Dengan biaya yang murah dan hasilnya berjalan
baik, maka orang-orang pada waktu itu berangsur-angsur mulai meninggalkan tv
mekanik dan menggantinya dengan tv elektronik.
Vladimir Zworykin, yang merupakan salah satu dari beberapa
pakar pada masa itu, mendapat bantuan dari David Sarnoff (1891-1971),
Senior Vice President dari RCA (Radio Corporation of America). Sarnoff
sudah banyak mencurahkan perhatian pada perkembangan TV mekanik, dan meramalkan
TV elektronik akan mempunyai masa depan komersial yang lebih baik. Selain itu,
Philo Farnsworth juga berhasil mendapatkan sponsor untuk mendukung idenya dan
ikut berkompetisi dengan Vladimir.
TV
ELEKTRONIK
Baik Farnsworth, maupun Zworykin, bekerja terpisah, dan
keduanya berhasil dalam membuat kemajuan bagi TV secara komersial dengan biaya
yang sangat terjangkau. Di tahun 1935, keduanya mulai memancarkan siaran dengan
menggunakan sistem yang sepenuhnya elektronik. Kompetitor utama mereka adalah
Baird Television, yang sudah terlebih dahulu melakukan siaran sejak 1928,
dengan menggunakan sistem mekanik seluruhnya. Pada saat itu sangat sedikit
orang yang mempunyai televisi, dan yang mereka punyai umumnya berkualitas
seadanya. Pada masa itu ukuran layar TV hanya sekitar tiga sampai delapan inchi
saja sehingga persaingan mekanik dan elektronik tidak begitu nyata, tetapi
kompetisi itu ada disana.
TV RCA, Tipe TT5 1939, RCA dan Zworykin siap untuk program
reguler televisinya, dan mereka mendemonstrasikan secara besar-besaran pada
World Fair di New York. Antusias masyarakat yang begitu besar terhadap sistem
elektronik ini, menyebabkan the National Television Standards Committee
[NTSC], 1941, memutuskan sudah saatnya untuk menstandarisasikan sistem
transmisi siaran televisi di Amerika. Lima bulan kemudian, seluruh stasiun
televisi Amerika yang berjumlah 22 buah itu, sudah mengkonversikan sistemnya
kedalam standard elektronik baru.
Pada tahun-tahun pertama, ketika sedang resesi ekonomi
dunia, harga satu set televisi sangat mahal. Ketika harganya mulai turun,
Amerika terlibat perang dunia ke dua. Setelah perang usai, televisi masuk dalam
era emasnya. Sayangnya pada masa itu semua orang hanya dapat menyaksikannya
dalam format warna hitam putih.
TV BERWARNA
Sebenarnya CBS sudah lebih dahulu membangun sistem warnanya
beberapa tahun sebelum rivalnya RCA. Tetapi sistem mereka tidak kompatibel
dengan kebanyakan TV hitam putih diseluruh negara. CBS yang sudah mengeluarkan
banyak sekali biaya untuk sistem warna mereka harus menyadari kenyataan bahwa
pekerjaan mereka berakhir sia-sia. Belajar dari pengalaman CBS, RCA mulai
membangun sistem warna menurut formatnya sendiri. Mereka dengan cepat membuat
sistem warna yang mampu untuk diterima pada sistem warna maupun hitam putih.
Setelah RCA memperlihatkan kemampuan sistem mereka, format NTSC kemudian
dijadikan acuan standart untuk siaran komersial pada tahun 1953.
Seiring dengan berjalannya waktu serta perkembangan
teknologi, televisi dari waktu ke waktu mulai banyak perbaikan dan penambahan
dari sisi teknologinya. Untuk waktu kedepan televisi perlahan mulai
meninggalkan teknologi analog dan menginjak ke era yang disebut televisi
digital dengan kemampuan dan kualitas yang lebih baik dari generasi sebelumnya
yang lazim disebut dengan teknologi IPTV [Internet Protocol Television].
SEJARAH PERKEMBANGAN TELEVISI DI INDONESIA
Pada tahun 1962 menjadi
tonggak pertelevisian Nasional Indonesia dengan berdiri dan beroperasinya TVRI.
Pada perkembangannya TVRI menjadi alat strategis pemerintah dalam banyak
kegiatan, mulai dari kegiatan sosial hingga kegiatan-kegiatan politik. Selama
beberapa decade TVRI memegang monopoli penyiaran di Indonesia, dan menjadi “
corong “ pemerintah. Sejak awal keberadaan TVRI, siaran berita menjadi salah
satu andalan. Bahkan Dunia dalam Berita dan Berita Nasional ditayangkan pada
jam utama. Bahkan Metro TV menjadi stasiun TV pertama di Indonesia yang fokus
pada pemberitaan, layaknya CNN atau Al-Jazeera. Pada awalnya, persetujuan untuk
mendirikan televisi hanya dari telegram pendek Presiden Soekarno ketika sedang
melawat ke Wina, 23 Oktober 1961.
Sulit dibayangkan
bagiamana repotnya dan susahnya ketika itu, karena bahkan untuk memlilih
peralatan yang mana dari perusahaan apa, masih serba menerka. Dalam
perkembangannya, TV swasta melahirkan siaran berita yang lebih variatif. Siaran
berita yang bersifat straight news, seperti Liputan 6 (SCTV), Metro Malam
(Metro TV), dan Seputar Indonesia (RCTI) tidak jadi satu-satunya pakem berita
televisi. Kurang dalamnya straight news disiasati stasiun TV dengan tayang
depth reporting, yang mengulas suatu berita secara lebih mendalam. Tayangan itu
antara lain Metro Realitas (Metro TV), Derap Hukum dan Sigi (SCTV) dan Kupas
Tuntas (Trans TV). Sementara itu, berita kriminal mendapat tempat tersendiri
dalam dunia pemberitaan televisi, sebutlah Buser (SCTV), Sergap (RCTI) dan
Patroli (Indosiar). Tonggak kedua dunia pertelevisian adalah pada tahun 1987,
yaitu ketika diterbitkannya Keputusan Menteri Penerangan RI Nomor : 190
A/Kep/Menpen/1987 tentang siaran saluran terbatas, yang membuka peluang bagi
televisi swasta untuk beroperasi. Seiring dengan keluarnya Kepmen tersebut,
pada tanggal 24 agustus 1989 televisi swasta, RCTI, resmi mengudara, dan
tahun-tahun berikutnya bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta baru,
berturut-turut adalah SCTV (24/8/90), TPI (23/1/1991), Anteve (7/3/1993),
indosiar (11/1/1995), metro TV (25/11/2000), trans TV (25/11/2001), dan lativi
(17/1/2002). Selain itu, muncul pula TV global dan TV 7. jumlah stasiun
televisi swasta Nasional tersebut belum mencakup stasiun televisi lokal –
regional.
Maraknya komunitas
televisi swasta membawa banyak dampak dalam kehidupan masyarakat, baik positif
atau negatif. Kehadiran mereka pun sering menimbulkan pro dan kontra dalam
masyarakat. Pada satu sisi masyarakat dipuaskan oleh kehadiran mereka yang
menayangkan hiburan dan memberikan informasi, namun di sisi lain mereka pun
tidak jarang menuai kecaman dari masyarakat karena tayangan-tayangan mereka
yang kurang bisa diterima oleh masyarakat ataupun individu-individu tertentu.
Bagaimanapun juga, televisi telah menjadi sebuah keniscayaan dalam masyarakat
dewasa ini. Kemampuan televisi yang sangat menakjubkan untuk menembus batas-batas
yang sulit ditembus oleh media masa lainnya. Televisi mampu menjangkau
daerah-daerah yang jauh secara geografis, ia juga hadir di ruang-ruang publik
hingga ruang yang sangat pribadi. Televisi merupakan gabungan dari media dengar
dan gambar hidup (gerak atau live) yang bisa bersifat politis, informatif,
hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Oleh
karena itu, ia memiliki sifat yang sangat istimewa.
Kemampuan televisi yang
luar biasa tersebut sangat bermanfaat bagi banyak pihak, baik dari kalangan
ekonomi, hingga politik. Bagi kalangan ekonomi televisi sering dimanfaatkan
sebagai media iklan yang sangat efektif untuk memperkenalkan produk pada
konsumen. Sementara, bagi kalangan politik, televisi sering dimanfaatkan
sebagai media kampanye untuk menggalang masa, contohnya adalah, banyak pihak
yang menilai kemenangan SBY di Indonesia dan JFK di Amerika sebagai presiden
adalah karena kepiawaian mereka memenfaatkan media televisi. Belakangan,
televisi pun sering dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai media sosialisasi
sebuah kebijakan yang akan di ambil kepada masyarakat luas, seperti yang
belakangan adalah sosialisasi tentang kenaikan harga BBM dan tarip dasar
listrik. Kehadiran televisi banyak memberi pengaruh positif dalam masyarakat,
terutama yang terkait dengan kemampuannya untuk menyebar informasi yang cepat
dan dapat diterima dalam wilayah yang sangat luas pada waktu yang singkat.
Hasil penelitian MRI (2001) terhadap para ibu yang diungkapkan oleh Puspito
(Almira-online) menyebutkan bahwa siaran televisi memberikan dampak positif
bagi anak-anak mereka. Diantara dampak positif tersebut adalah menambah wawasan
anak, anak menjadi lebih cerdas, anak dapat membedakan yang baik dan jahat,
serta dapat mengembangkan keterampilan anak. Dampak negatif yang ia lihat pada
anak mereka, yaitu berperilaku keras, moralitas negatif, anak pasif, dan tidak
kreatif nilai sekolah rendah, kecanduan menonton, dan perilaku konsumtif.
SEJARAH
TELEVISI LOKAL
Penyiaran saat ini
tidak lagi menjadi monopoli Jakarta. Fenomena menjamurnya televisi lokal di
berbagai daerah dapat dijadikan indikator telah menyebarnya sumber daya
penyiaran. Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), sebuah organisasi tempat
bergabungnya televisi lokal yang berdiri pada 26 Juli 2002, hingga saat ini
telah menghimpun sebanyak 23 industri televisi lokal. Anggotanya tersebar di
berbagai daerah di Indonesia, ada Bandung TV di Bandung, Bali TV di Bali, Riau
TV di Pekanbaru Riau, dan berbagai daerah lainnya. Belum lagi keberadaan
televisi lokal lainnya yang belum terdata sama sekali. Dapat dibayangkan betapa
ramainya udara Indonesia di masa yang akan datang dengan maraknya televisi
lokal yang akan bermunculan. menggeliatnya perkembangan televisi lokal tidak
seindah yang dibayangkan. Televisi lokal yang sudah beroperasi banyak yang
berjibaku dengan masalah internalnya, dari persoalan buruknya manajemen, baik
manajemen sumber daya manusianya maupun manajemen keuangannya, hingga pada
persoalan sulitnya mendapatkan share iklan.
Iklan merupakan masalah
tersendiri yang cukup membuat gelisah para pengelola sebagian besar televisi
lokal. Potret buruknya sistem manajemen sebagian televisi lokal dapat dilihat
dalam peristiwa protes karyawan salah satu televisi lokal yang terjadi di tahun
2005. Protes karyawan dilatarbelakangi karena rendahnya upah yang diterima
serta tidak adanya kepastian kerja bagi mereka.
Tumpuan harapan Publik
sesungguhnya menaruh harapan begitu tinggi terhadap televisi lokal.
Kehadirannya di belantika penyiaran diharapkan dapat memberi alternatif
tontonan dan dapat mengakomodasi khazanah lokalitas yang saat ini kurang
tertampung dalam tayangan televisi Zaman telah berubah, konsentrasi media dan
pemusatan modal ingin dihilangkan. Walau tidak bisa dilakukan secara langsung,
keinginan menyebar sumber daya itu akan dilakukan secara bertahap seiring
dengan penataan sistem dan regulasinya. Ini merupakan berkah yang patut
disyukuri masyarakat daerah.
Bila keadaan ini terus
berjalan sesuai harapan, geliat industri penyiaran di daerah akan berkembang
dan orang tidak lagi melihat Jakarta sebagai pusat peradaban penyiaran.
Peradaban penyiaran lambat laun akan tumbuh di berbagai daerah. Fenomena ini
mungkin hampir sama dengan keadaan pada zaman Yunani kuno. Di sana kebudayaan
tidak terpusat di suatu tempat. Tanggung jawab pengelola, banyaknya masalah
yang dihadapi oleh industri televisi lokal menuntut perhatian dan upaya untuk
mengatasinya. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab regulator penyiaran,
melainkan juga menjadi tanggung jawab pengelola televisi lokal itu sendiri.
Dari sudut regulator diharapkan ada regulasi atau kebijakan yang memihak
terhadap tumbuhkembangnya televisi lokal.
Pemihakan itu kemudian
dituangkan dalam produk peraturan. Dari sisi televisi lokal, harus segera
dilakukan upaya, antara lain pertama, televisi lokal harus mampu menciptakan
keunikan dari program siaran yang dikelolanya. Bila hal ini dapat dilakukan,
setidaknya televisi lokal dapat membangun posisi tawar di hadapan televisi
Jakarta dan dapat meraih pemirsa daerah yang selama ini menjadi penonton loyal
televisi local. Bila televisi lokal telah menjadi tuan rumah di daerahnya
sendiri, rasanya cita-cita mewujudkan sistem penyiaran nasional yang
berkeadilan bukanlah sebuah impian yang utopis.
Pada era otonomi daerah,
peran media massa makin urgen. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 yang direvisi
menjadi Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah lebih
menitikberatkan pada partisipasi dan kontrol masyarakat serta pemberdayaan
institusi lokal. Salah satu upaya yang harus dilakukan demi suksesnya otonomi
daerah adalah mengoptimalkan peran institusi lokal nonpemerintah, seperti media
massa. Strategi komunikasi yang berkembang pun tidak lagi centrist vertical
seperti pada masa Orde Baru. Pada masa itu, media massa hanya menjadi corong
komunikator puncak yang duduk di jabatan tertinggi pemerintahan sehingga
informasi yang beredar pun hanya untuk kepentingan pemerintahan. Sementara itu,
masyarakat diposisikan hanya sebagai komunikan yang dijejali dengan berbagai
propaganda. Di Indonesia saat ini sudah berkembang startegi komunikasi two way
traffic yang dalam pandangan Peterson dan Burnett, telah terjadi komunikasi
vertikal downward communication dan upward communication.
Realitas tersebut
merupakan angin surga bagi kehidupan media massa di tanah air. Setidaknya,
media massa pada orde ini dapat lebih memberdayakan dirinya sembari tetap
mempertahankan empat fungsi pokoknya, yakni, memberikan informasi (to inform),
menjadi media pendidikan (to educate), sarana hiburan bagi masyarakat (to
entertain), dan kontrol sosial (social control). Keempat fungsi pokok tersebut
harus dikayuh dalam bingkai-bingkai norma yang berlaku, baik norma hukum, norma
agama, norma susila, maupun norma kesopanan.
Karakterikstik Televisi
1.
Audiovisual
Televisi memiliki kelebihan , yakni dapat
didengar sekaligus dapat dilihat (audiovisual). Jadi , tidak hanya mendengar
kata-kata , musik dan efek suara ,
khalayak juga dapat melihat gambar yang bergerak. Karena sifatnya yang
audiovisual pula , maka acara siaran berita harus selalu dilengkapi dengan
gambar , baik gambra diam seperti foto maupun
video rekaman. Hal ini dimaksudkan agar penonton dapat memperoleh
gambaran yang lengkap mengenai berita yang disiarkan serta mempunya keyakinan
akan kebeneran berita tersebut.
2.
Berpikir dalam Gambar
Pihak yang bertanggung jawab
atas kelancaran suatu acara televisi adalah pengarah acara. Bila ia membuat
naskah atau membaca naskah acara, ia harus berpikir dalam gambar (think in the
picture). Begitu pula komunikator yang akan menyampaikan informasi, pendidikan
atau persuasi, sebaiknya ia dapat melakukan berpikir dalam gambar. Sekalipun ia
tidak membuat naskah, ia harus dapat menyampaikan keinginannya kepada pengarah
acara tentang penggambaran atau visualisasi dari acara tersebut.
3.
Pengoperasian Lebih Kompleks
Pengoperasian televisi siaran lebih kompleks
dan lebih banyak melibatkan banyak orang. Untuk menayangkan suatu acara siaran
berita yang dibawakan oleh dua orang pembawa berita saja dapat melibatkan 10
orang.
Pengaruh teknologi komunikasi
terhadap televisi
“Communication is who, says what, in which
channel, to whom, with what effect” (Lasswell 1960).
Seperti petuah yang disampaikan oleh Harold Lasswell bahwa
komunikasi merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa?
dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa. Kita ketahui
bahwa dari lahir manusia sudah berkomunikasi satu sama lain.
Dengan apapun caranya, dan setiap interaksi tersebut
mengandung sebuah pesan dan selalu ada pengaruh dari pesan yang disampaikan.
Salah satu saluran yang menyempurnakan proses komunikasi adalah teknologi. Kita
ketahui dari dulu kala manusia memanfaatkan teknologi layaknya perilaku manusia
untuk bertukar informasi, berkomunikasi satu sama lain.
Teknologi mempunyai peran yang besar dalam kehidupan
manusia, terutama untuk saling berkomunikasi baik secara langsung ataupun tidak
langsung. Teknologi komunikasi merupakan suatu perangkat keras, nilai-nilai
sosial, atau organisasi yang digunakan individu untuk menyampaikan pesan,
mengumpulkan informasi, dan saling bertukar ilmu dalam lingkup tertentu.
Teknologi komunikasi dapat mempengaruhi perilaku manusia baik secara langsung
maupun tidak langsung. Pengaruh ini dapat memberikan suatu yang positif seperti
halnya mempermudah individu untuk menyampaikan suatu pesan atau justru
sebaliknya, individu dapat memanfaatkan teknologi komunikasi ini untuk suatu
hal yang negatif seperti halnya copyright, pelecehan, pencemaran nama baik dan
sebagainya.
Khusus pada televisi, pada saat ini televisi dapat
digolongkan dalam suatu kebutuhan yang primer. Kebanyakan masyarakat saat ini
menganggap televisi bukan media hiburan semata akan tetapi sudah dianggap
sebagai suatu kebutuhan yang primer. Mengingat televisi pada beberapa puluhan
tahun yang lalu digunakan sebagai perangkat komunikasi yang langka dan hanya
beberapa kalangan yang sanggup memilikinya. Jauh berbeda dengan era globalisasi
saat ini. Fungsi televisi yang semula hanya sebagai alat komunikasi banyak
berubah dan memberi pengaruh yang besar terhadap penontonnya.
Televisi saat ini adalah sarana elektronik yang paling
digemari dan dicari orang. Untuk mendapatkan televisi tidak lagi sesusah zaman
dahulu dimana perangkat komunikasi ini adalah barang yang langka dan hanya
kalangan tertentu yang sanggup memilikinya. Saat ini televisi telah menjangkau
lebih dari 90 persen penduduk di negara berkembang. Televisi yang dulu mungkin
hanya menjadi konsumsi kalangan dan umur tertentu saat ini bisa dinikmati dan
sangat mudah dijangkau oleh semua kalangan tanpa batasan usia. Siaran-siaran
televisi akan memanjakan orang-orang pada saat-saat luang seperti saat liburan,
sehabis bekerja bahkan dalam suasana sedang bekerjapun orang-orang masih
menyempatkan diri untuk menonton televisi. Suguhan acara yang variatif dan
menarik membuat orang tersanjung untuk meluangkan waktunya duduk di depan
televisi. Namun dibalik itu semua dengan dan tanpa disadari televisi telah
memberikan banyak pengaruh negatif dalam kehidupan manusia baik anak-anak maupun
orang dewasa. Kita harus berhati-hati sebab televisi selain bisa menjadi teman
yang baik bisa juga menjadi musuh yang menghanyutkan.
Televisi hadir sebagai sarana untuk memperlancar hubungan
dan komunikasi antar manusia. Banyak perubahan dan kemajuan yang terjadi pada
masyarakat abad kedua puluh dengan datangnya media masa televisi.Pada dasarnya
fungsi televisi adalah memberikan hiburan yang sehat serta pengetahuan kepada
pemirsanya. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan
hiburan.televisi bisa mengerutkan dunia dan melaksanakan penyebaran berita dan
gagasan lebih cepat. Dengan adanya media televisi dunia kelihatan semakin kecil
dari sebelumnya. Kita bisa memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi
yang lebih baik tentang apa yang terjadi di dunia. Berita-berita aktual bisa
langsung disebarkan ke berbagai pelosok dunia secara langsung. Gempa bumi,
penyakit menular, kriminalitas, peristiwa olah-raga terkini yang terjadi di
belahan bumi bisa disaksikan bersama-sama oleh berjuta-juta orang. Media
televisi telah bisa menyatukan hati semua orang melalui informasi yang
diberikan.
Dampak Dari Penggunaan Teknologi Televisi
Pada masa sekarang ini banyak sekali adanya suatu teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan oleh umat manusia. Teknologi itu antara lain adalah radio, telepon, telepon seluler,internet dan lain-lain. Teknologi tersebut mempunayi suatu kelebihan dan kelemahan masing-masing dalam kegunaan jangkauan kecepatan informasi atau komunikasi dan lain-lain.Saat ini televisi menjadi familiar sekali di berbagai masyarakat di seluruh dunia yang disinyalir dengan adanya setiap rumah yang terdapat tv, maka selain dampak baik yang diharapkan seperti perolehan informasi juga terdapat dampak buruk yang sering muncul seperti melunturnya perilaku sosialisasi antar masyarakat karena masyarakat sekarang lebih suka menonton dan "berteman" dengan tv.
Teknologi televisi yang banyak digunakan
oleh masyarakat di seluruh dunia mempunyai dampak positif dan negatif yang
dihasilkan. Dampak positif ini antara lain adalah dengan adanya televisi
masyarakat jadi lebih mudah untuk memperolh informasi secara lengkap dan cukup
cepat walaupun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal kita. Seperti informasi
perkembangan teknologi dan ekonomi di daerah Kalimantan bisa kita peroleh
melalui siaran berita televisi ketika kita tinggal di Yogyakarta. Selain itu
dengan televisi dapat digunakan masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya
kepada pemerintah melalui suara pemirsa atau mengawasi kebijakan pemerintah
sebagai watch dog yang juga dilakukan
oleh media massa tv. Juga dengan tv, pemerintah bisa kebijakan atau
peraturannya kepada masyarakat mengingat jangkauan dari tv yang cukup luas.
Televisi juga bisa digunakan masyarakat untuk memperoleh hiburan dengan acara
hiburan yang ditayangkan oleh media massa televisi. Juga dengan
televisi,masyarakat bisa mengetahui suatu tindakan penyimpangan sosial yang
kurang baik yang di tayangkan lewat tayangan berita kriminal dan lain-lain.
Maka dampak positif itu memang diharapkan terjadi dan diharapkan bisa membantu
dan juga mempermudah manusia dalam perolehan informasi dan kegiatan komunikasi
secara efisien dan cepat sesuai dengan kebutuhan manusia yang semakin
menginginkan kemudahan.
Selain itu kini televisi mempunyai suatu
dampak negatif yang sangat berbahaya dan sangat mengkhawatirkan bagi kehidupan
msyarakat terutama masalah penyimpangan sosial yang dihadapi.Dampak negatif itu
antara lain anatara lain adalah dengan adanya tv saat ini masyarakat lebih
gemar menontonnya dan menjadikan tv sebagai "teman" daripada
bersosialisasi dengan sesama manusia.Sehingga kesadaran untuk bersosialisasi
antar sesama manusia menjadi luntur dan berkurang.Dan menjadikan manusia jarang
melakukan silaturahmi dengan orang lain yang sangat penting untuk kehidupan
manusia dan menjalin hubungan baik anatar manusia.Selain itu dengan adanya tv,menjadikan
masyarakat khususnya di Indonesia menjadi masyarakat yang gemar menonton.Ini
menjadikan masyarakat kurang bisa mengembangkan kemampuan menulis dan
menurunkan minat membaca bagi masyarakat Indonesia.Mengingat masyarakat
Indonesia adalah masyarakat yang tidak melewati masa gemar membaca dan langsung
menuju ke masyarakat yang gemar menonton. Yang membuat kurang bisa memahami
pentingnya membaca dan menulis dalam perolehan informasi dan kegiatan
komunikasi tulis antar sesama manusia. Tayangan di televisi yang menayangkan
tayangan kekerasan dan pornografi juga membuat secara tidak langsung
mempengaruhi tindakan manusia untuk melakukan tindakan yang menyimpang dari
nilai sosial,moral dan norma yang berlaku.
Seperti tindakan pencurian, pembunuhan,
kekerasan, perampokan, pemerkosaan, pencabulan dan lain-lain. Selain itu
tayangan yang tidak pantas ditonton oleh anak-anak seperti acara kekerasan,
pornografi, permpokan yang ditayangkan di jam-jam ketika anak kemungkinan besar
bisa menontonnya menjadikan anak bisa terpengaruh dan melakukan hal
kekerasan,pemerkosaan,sex pranikah yang kini sering terjadi yang dimungkinkan
sebagian karena terpengaruh dari tayangan tv yang ada. Sedangkan iklan yang
menyesatkan dan tidak pantas dikonsumsi untuk umur-umur tertentu seperti
anak-anak juga bisa bisa menyesatkan konsumen dan menjadikan masyarakat rugi
dan terkena efek yang tidak diinginkan seperti iklan obat kuat dan lain-lain.Selain
itu berita kriminal atau berita infotainment bisa mampengaruhi masyarakat untuk
melakukan tindakan meyimpang atau kriminal dan menyesatkan masyarakat.Mengingat
infotainment merupakan private news yang tidak termasuk dalam berita yang
menyangkut kepentingan orang banyak. Namun walau bagaimanapun infotainment
merupakan berita yang banyak disukai oleh masyarakat sehingga dapat
meningkatkan keuntungan media massa stasiun televisi walaupun disisi lain juga
memiliki banyak dampak buruk. Dalam suatu iklan layanan masyarakat, pencitraan
perusahaan, pencitraan atau iklan calon pemimpin seperti gubernur,pemasaran
berwawasan sosial perusahaan yang ditayangkan dalam tv juga menimbulkan konflik
atau ketegangan yang bisa berujung pada tindakan kekerasan oleh suatu kelompok
pendukung tertentu.
Selain itu tayangan
yang berbau mistik dan tahayul juga dapat menyesatkan masyarakat. Seperti
tayangan mistik semi sains yang berhubungan denagn fiksi ilmiah yang juga
bertutur tentang berbagai macam bentuk misteri yang ada hubungan dengan ilmiah
ini kadang tidak rasional namun secara ilmiah mengandung kemungkinan kebenaran
yang kemungkinan besar seseorang bisa mengagungkan hal ini dan melunturkan iman
agama seseoarang seperti tayangan sulap. Tayangan mistik fiksi yang tidak masuk
akal, bersifat fiksi atau hanya sebuah fiksi yang di filmkan untuk menyajikan
dan menciptakan misteri, suasana mencekam, kengerian pada pemirsa seperti
tayangan kartun. Ini bisa menyesatkan akal pikiran rasio manusia yang kadang
tidak sesuai dengan kenyataan kehidupan manusia seperti leher memanjang, tubuh
terbelah-belah dan lain-lain. Tayangan mistik horor yang lebih mengekploitasi
dunia lain, seperti hubungan dengan jin, setan, santet, kekuatan supranatural
seseorang, kematian tidak wajar, balas dendam, penyiksaan dan sebagainya. Hal
ini bisa menyesatkan pikiran pemirsa dan menjadikan keimanan seseorang dalam
beragama menjadi luntur seperti menginginkan kekayaan yang cepat dengan
berhubungan dengan jin serta menjadikan seseorang mungkin tidak takut kepada
Tuhan tapi justru menjadikan takut kepada kematian. Selain dalam televisi juga
kadang lebih digunakan untuk bermain game seperti Playstation,untuk menonton
film dengan VCD player yang bisa membuat manusia kecanduan dan menjadikan malas
untuk bekerja atau melakukan hal yang lebih bermanfaat. Kadang juga digunakan
untuk menonton vcd porno yang bisa merusak moral masyarakat.
Berikut
pengaruh yang ditimbulkan acara televisi terhadap audiens yaitu:
a. Dampak kognitif yaitu kemampuan
seseorang atau pemirsa untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan
televisi yang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa.
Contoh: acara kuis di televisi
b. Dampak peniruan yaitu pemirsa
dihadapkan pada trendi aktual yang ditayangkan televisi.
Contoh: model pakaian dan rambut dari bintang televisi yang kemudian digandrungi atau ditiru secara fisik.
Contoh: model pakaian dan rambut dari bintang televisi yang kemudian digandrungi atau ditiru secara fisik.
c.
Dampak
prilaku yaitu proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang telah
ditayangkan acara televisi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh: “Pengabdian” yang mengintemalisasikan
kesehatan bagi masyarakat.
KESIMPULAN
Televisi, informasi dan
masyarakat memang sulit dipisahkan karena secara otomatis dapat memperluas
cakrawala pengetahuan. Televisi yang bersifat audio visual dan tidak terbatas
ruang dan waktu menjadi alat yang efektif dalam mempengaruhi masyarakat.
Pengaruh yang
ditimbulkan dengan adanya informasi di televisi yakni:
· Kita
bisa tau peristiwa yang terjadi dibelahan bumi yang lain.
·
Selain itu juga sebagai hiburan, kontrol
sosial, pendidikan bahkan menghadirkan budaya, ekonomi, politik sampai
pertahanan keamanan negara. Namun ketika kita lihat sekarang, ketika kita
melihat dampak negatif yang ditimbulkan karena ketajaman arus informasi dan
tayangan yang keluar batas dari realitas sosial karena tayangan yang kurang
bermutu tanpa dibarengi nilai-nilai moral di dalamnya yang pada akhirnya
menimbulkan:
·
Pergeseran tata nilai di dalam
masyarakat, dan juga pemanfaatan beberapa orang untuk kepentingan politik
seperti kampanye.
·
Mentalitas anak yang mulai terganggu
karena tayangan yang kurang mendidik yang menjadikan kekhawatiran para orang
tua. Kebanyakan hanya sebatas hiburan.
Oleh karena itu kita sebagai penerima dalam hal ini kita harus waspada dengan lebih pandai memilah-milah informasi dan tayangan yang muncul dengan membekali diri kita dengan pendidikan yang bermuatan negative.
Oleh karena itu kita sebagai penerima dalam hal ini kita harus waspada dengan lebih pandai memilah-milah informasi dan tayangan yang muncul dengan membekali diri kita dengan pendidikan yang bermuatan negative.
DAFTAR PUSTAKA
Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa
Sebuah Analisis Media Televisi, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Ardianto, Elvinaro. Komala,Lukiti.
Karlinah,Siti. Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Bandung : Simbiosa Rekatama
Media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar