A.
Penemuan Mesin Cetak Mengubah Peradaban
Pendahuluan
Buku
adalah penanda sejarah. Dia merupakan prasasti tertulis yang tak tergantikan
dalam arus budaya dan alur ilmu pengetahuan manusia. Buku adalah tali sambung
peradaban yang terlewat dengan peradaban mendatang. Tak dapat dipungkiri,
penemuan mesin cetak telah menjadi awal revolusi yang mempercepat transformasi
pengetahuan manusia lewat buku. Johann Gutenberg (1400-1468) adalah orang yang
paling berjasa dalam hal ini. Setelah keberhasilannya menciptakan mesin cetak
yang efektif dan produktif, ilmu pengetahuan semakin mudah disalurkan dan
dikodifikasi. Pengetahuan tertulis (written knowledge) dengan cepat
menggantikan posisi dan melampaui peran pengetahuan terucap (spoken knowledge).
Dalam budaya ucap dan tutur -yang secara turun-temurun menjadi media
transformasi-, ilmu pengetahuan rentan terlupa karena memori manusia sangat
terbatas. Tapi, buku membuat ilmu pengetahuan semakin terjaga dan lestari.
Mesin cetak digunakan untuk membuat banyak salinan halaman yang identik. Kini digunakan untuk mencetak buku dan surat kabar. Kini segalanya dilakukan secara otomatis. Saat mesin cetak ditemukan oleh Johannes Gutenberg, ia harus meletakkan huruf bersama-sama. Tiap huruf ada di balok logam dalam sebuah bingkai. Lalu ia bisa memindahkan kertas dan tinta di atasnya, mirip seperti perangko. Huruf itu akan meninggalkan beberapa tinta di kertas itu. Sehingga mesin cetak sebagai
Sejarah Ditemukannya Mesin Cetak
Karya
Johannes Gutenberg dalam mesin cetak di mulai sekitar 1436 ketika dia sedang
bekerja sama dengan Andreas Dritzehan, seseorang
yang pernah dibimbing oleh Gutenberg dalam pemotongan batu permata, dan Andreas Heilmann,
pemilik pabrik kertas. Tetapi rekor resmi itu baru muncul pada tahun 1439
ketika ada gugatan hukum melawan Gutenberg; saksi-saksi yang ada membicarakan
mengenai cetakan Gutenberg, inventaris logam (termasuk timah), dan cetakan
ketikannya.
Masyarakat di Eropa pada saat itu juga sedang
mengembangkan cetakan yang dapat dipindah-pindahkan, termasuk pandai emas Procopius Waldfoghel dari
Perancis dan Laurens Janszoon Coster dari Belanda. Tetapi, mereka tidak dikenal karena
telah menyumbang kemajuan spesifik kepada mesin cetak.
Gutenberg adalah orang pertama yang membuat cetakan
dari campuran timbal, timah, dan antimon yang kritis untuk menghasilkan cetakan
tahan lama yang menghasilkan buku cetak bermutu tinggi dan terbukti menjadi
lebih cocok untuk percetakan daripada cetakan tanah liat, kayu atau perunggu
yang diciptakan di Asia Timur. Hal ini merupakan sebuah pengetahuan yang
didapatnya pada saat Gutenberg bekerja untuk seorang pandai emas professional.
Untuk membuat cetakan timbal ini, Gutenberg menggunakan sesuatu yang membuat
penemuannya dipertimbangkan sebagai penemuan yang paling cerdik, matriks
istimewa memungkinkan pembentukan cetakan baru yang cepat dan tepat dari
kerangka yang seragam.
Gutenberg juga diakui karena memperkenalkan tinta
berbasis minyak yang lebih tahan lama dibandingkan tinta berbasis air yang dulu
dipergunakan. Sebagai bahan percetakan dia menggunakan naskah yang terbuat dari
kulit binatang dan kertas, yang terakhir diperkenalkan di Eropa dari Cina dengan
menggunakan cara orang Arab beberapa abad yang lalu.
Di dalam kitabnya, Gutenberg membuat percobaan
terhadap percetakan berwarna untuk beberapa bagian awal halaman, tersedia hanya
dalam beberapa salinan. Karya baru-barunya, The Mainz Psalter yang
dikeluarkan pada tahun 1453, sepertinya di disain oleh Gutenberg tetapi
diterbitkan di bawah terbitan penggantinya, Johann Fust dan Peter Schöffer,
menggunakan huruf cetak awal berwarna merah dan biru yang rumit.
Majalah Life menganggap Mesin Cetak adalah
penemuan yang paling luar biasa pada 1000 tahun terakhir. Penting untuk
disadari bahwa abjad mungkin merupakan kunci keberhasilan mesin cetak.
Dampak Sejarah
Pencetakan
seperti yang berkembang di Asia Timur tidak memakai mesin cetak seperti di
kasus Gutenberg. Walaupun penemuan cetakan yang dapat dipindah-pindahkan di
Cina dan Korea mendahului mesin cetak Gutenberg, dampak mesin cetak dan cetakan
yang dapat dipindah-pindahkan di Asia Timur tidak mempunyai pengaruh besar
seperti pada masyarakat Eropa Barat. Hal ini mungkin karena jumlah pekerja yang
terlibat dalam memanipulasikan ribuan tablet porselen sangat besar, atau di
Korea, tablet logam, yang diperlukan dalam penggunaan penulisan huruf Cina.
Namun, ratusan ribu buku, atas subyek yang berkisar antara Confucian
Classics hingga ilmu pengetahuan dan ilmu pasti, dicetak menggunakan
teknologi yang lebih tua dari percetakan dari balok kayu, membuat kebudayaan
percetakan dunia pertama.
Dampak dari mesin cetak Gutenberg di Eropa hampir sama
dengan perkembangan tulisan, penemuan abjad atau Internet, hingga ke efeknya di
masyarakat. Seperti tulisan tidak menggantikan berbicara, percetakan tidak
pernah mencapai posisi kekuasaan yang total. Naskah yang ditulis tangan terus
dihasilkan, dan berbagai macam model grafik komunikasi terus menerus
memengaruhi satu sama lain.
Mesin cetak juga merupakan faktor pendiri dari
himpunan ilmuwan yang dengan mudah menceritakan penemuan mereka lewat pendirian
jurnal ilmiah yang disebarkan secara luas. Hal ini membantu mereka membawa
masuk revolusi ilmiah. Kepengarangan menjadi lebih berarti dan menguntungkan
karena adanya mesin cetak. Tiba-tiba hal ini menjadi penting siapa yang
mengatakan atau menulis apa, dan apa yang merupakan perumusan dan masa susunan
yang tepat. Hal Ini memperbolehkan pengarang untuk menyebutkan persis
referensi, yang menghasilkan peraturan, "Satu orang Pengarang, satu kerja
(hak), satu potong informasi" (Giesecke, 1989; 325). Sebelumnya, pengarang bukan
sesuatu yang penting, sejak salinan Aristotle yang dibuat di Paris tidak akan identik
dengan yang asli di Bologna. Untuk banyak karya sebelum mesin cetak, nama
pengarang secara menyeluruh hilang.
Karena proses mencetak menjamin bahwa informasi yang
sama jatuh pada halaman yang sama, halaman yang diberi nomor, daftar isi, dan
indeks menjadi biasa, meskipun mereka dulunya belum dikenal. Proses membaca
juga diubah, lambat laun berubah dalam beberapa abad dari pengukuran lisan
sampai membaca pribadi. Ketersediaan bahan cetak yang luas juga menyebabkan
kenaikan drastis di tingkat melek huruf dewasa di seluruh Eropa.
Dalam lima puluh atau enam puluh tahun penemuan mesin
cetak, seluruh peraturan klasik sudah dicetak ulang dan disebarluaskan di
seluruh Eropa (Eisenstein, 1969; 52). Sejak lebih banyak orang
mempunyai akses terhadap pengetahuan baik baru maupun lama, lebih banyak orang
dapat membicarakan karya ini. Selanjutnya, sejak produksi buku adalah
perusahaan yang lebih komersial, undang-undang hak cipta pertama disahkan untuk
melindungi apa yang sekarang disebut hak-hak kepemilikan intelektual. Sedetik
perkembangan popularisasi pengetahuan ini adalah kemunduran bahasa Latin
sebagai bahasa kebanyakan karya yang diterbitkan, untuk digantikan oleh bahasa
sehari-hari di masing-masing bidang, menambah jenis karya yang diterbitkan.
Secara paradoksal, kata yang di cetak juga membantu untuk mempersatukan dan
menstandarisasi ejaan dan sintaksis logat asli, dan mempunyai efek yang
mengurangi keanekaragaman mereka. Kenaikan dalam kepentingan bahasa nasional
yang bertentangan dengan masyarakat Eropa Latin disebutkan sebagai salah satu
sebab kenaikan nasionalisme di Eropa.
Dampak Adanya Mesin Cetak
Adanya Buku
Buku adalah penanda sejarah. Dia merupakan prasasti
tertulis yang tak tergantikan dalam arus budaya dan alur ilmu pengetahuan
manusia. Buku adalah tali sambung peradaban yang terlewat dengan peradaban
mendatang. Tak dapat dipungkiri, penemuan mesin cetak telah menjadi awal
revolusi yang mempercepat transformasi pengetahuan manusia lewat buku. Johann
Gutenberg (1400-1468) adalah orang yang paling berjasa dalam hal ini. Setelah
keberhasilannya menciptakan mesin cetak yang efektif dan produktif, ilmu
pengetahuan semakin mudah disalurkan dan dikodifikasi
Sejarah Buku
Sebuah
buku lahir dari perkembangan kebutuhan akan pentingnya komunikasi dan
informasi, serta kemampuan daya pikir manusia juga kelemahan daya tampung
pikiran manusia. Di zaman kuno, tradisi komunikasi dan penyampaian informasi
berupa syair, doa-doa, maupun cerita masih bersifat lisan, disampaikan dari
mulut ke mulut, sehingga metode menghafal menjadi sebuah ciri tradisi masa ini.
Semakin lama, informasi yang harus dihafal pun semakin banyak, sedangkan
kapasitas memori mereka kian melemah. Mereka akhirnya berpikir untuk menuangkan
beragam informasi ini melalui tulisan juga gambar. Karena itu, Sejarah
perkembangan buku tidak lepas dari perkembangan tulisan. Tulisan hieroglif
bangsa Mesir Kuno, tulisan pada keping-keping batu berupa prasasti, tulisan-tulisan
pada daun lontar atau papyrus, serta tulisan pada kulit-kulit binatang dapat
dikatakan sebagai buku kuno.
Para
peneliti sejarah menyatakan bahwa tulisan pertama yang tersusun secara alfabet
ditemukan di Mesir pada tahun 1800 SM. Tentu saja bentuknya sangat berbeda
dengan buku yang kita kenal sekarang. Buku yang dibuat bangsa Mesir ini
menggunakan lapisan papyrus, yakni tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak
tumbuh di tepi sungai Nil. Papirus dipipihkan hingga membentuk lembaran.
Kumpulan lembaran ini kemudian digulung dan disebut buku. Buku pertama yang
ditulis di lembaran papyrus berkisah tentang Raja Neferirkare Kaki pada Dinasti
Kelima, sekitar 2400 SM. Tulisan pada papyrus ini juga banyak digunakan oleh
bangsa Romawi. Dalam perkembangannya, panjang gulungan papyrus bisa mencapai
puluhan meter, sehingga merepotkan orang yang menulis dan membacanya. Gulungan
papyrus terpanjang terdapat di British Museum London. Panjangnya mencapai 40,5
meter.
Kesulitan
menggunakan gulungan papyrus ini kemudian melahirkan sebuah inovasi di zaman
itu. Sejalan dengan keinginan dan kebutuhan untuk meningkatkan sisi kemudahan
dalam peradabannya, maka di awal Abad Pertengahan gulungan papyrus digantikan
oleh lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi oleh kulit kayu yang keras
yang dinamakan codex. Selain codex, orang juga mengenal manuskrip sebagai
bentuk yang hampir sama dengan codex, yakni kulit binatang sampulnya terbuat
dari kayu.
Codex sering disebut sebagai kumpulan naskah kuno yang berisi ajaran agama. Kata codex diambil dari bahasa Latin, yang berarti blok kayu. Balok kayu ini kemudian dilapisi lilin di atasnya hingga tmembentuk sebuah buku kuno. Kelebihan codex dibanding papyrus ialah dapat dipakai ulang. Ketika ingin menulis yang baru, lapisan lilinnya dipanakan hingga meleleh dan kosong. Barulah menulis. Tulisan tangan dalam codex dan manuskrip dianggap sebagai tulisan yang mulai tersusun secara rapi.
Pada
pertengahan Abad V, terjadi perkembangan yang signifikan dari codex. Masyarakat
di Timur Tengah mulai menggunakan kulit domba untuk menulis. Kulit domba
disamak dan dibentangkan hingg membentuk lembaran. Lembar kulit domba ini
disebut pergamenum dan selanjutnya disebut perkamen, artinya kertas kulit.
Lembaran kulit domba ini kemudian disusun secara berlipat, diikat di salah satu
sisinya dengan menggunakan jepitan dari kulit, sehingga lebih mudah digunakan.
Perkamen dianggap sebagai bentuk awal dari buku berjilid.
Buku
yang serupa dengan yang kita kenal sekarang, berkembang di Zaman Pertengahan.
Bahan dasarnya terbuat dari kulit anak sapi (vellum). Vellum dibuat menjadi
lembaran, dan setiap lembarnya dilipat di bagian tengahnya. Vellum lebih tebal
daripada perkamen, sehingga kedua sisinya bisa ditulisi. Setiap empat lembar
vellum menjadi delapan halaman dan dianggap sebagai satu bagian/satu buku.
Bagian yang sudah selesai itu dijahit di bagian belakang. Kedua bagian depan
dan belakang kemudian dilapisi kayu, ditutup kembali dengan kulit, sehingga
hasilnya seperti buku yang dipakai sekarang. Cina dan Jepang merupakan bangsa
yang mengembangkan teknologi lebih cepat dan sederhana dalam mengubah bentuk
buku gulungan menjadi buku bersusun dan berlipat yang diapit sampul, hingga
bentuknya seperti lipatan kain gorden.
Semua
buku kuno tersebut ditulis tangan. Isi tulisannya berupa berita/pengumuman,
kisah pengembaraan dan penaklukkan suatu wilayah, serta pemikiran dan
perjalanan spiritual mereka. Kebanyakan tulisan yang dibukukan ialah
kitab-kitab suci yang berisikan ajaran keagamaan. Kegiatan menulis dan membukukan
ajaran agama ini dilakukan banyak biarawan atau pendeta di tahun 500-an. Mereka
menghabiskan waktu untuk membuat buku dengan tulisan tangan sendiri,
menggunakan huruf yang dilengkapi dengan gambar dan hiasan berwarna. Pekerjaan
yang menghabiskan banyak waktu dan memerlukan ketelitian tinggi. Mereka lakukan
semua itu dengan ketekunan dan semangat spiritual yang tinggi untuk menunjukkan
pengabdian kepada Sang Pencipta. Karena itulah, buku/kitab kuno sangat
berharga, sebagaimana berharganya hidup, peristiwa dan perjalanan hidup juga
kemampuan menuliskan kisah hidup yang mereka miliki.
Perkembangan
pembuatan buku tidak lepas dari peran signifikan pembuat kertas asal Cina Tsai
Lun. Sekitar tahun 105 M, ia menyerahkan contoh kertas kepada Kaisar Ho Ti.
Pembuatan kertas sendiri telah dilakukan sejak Abad ke-11 M, kemudian digunakan
secara massal di abad ke-16 M. Hasil penciptaan kertas ini telah membawa Cina
menjadi pengekspor kertas satu-satunya di dunia pada Abad ke-2 M. Pada
pertengahan tahun 800-an, buku mulai mengalami perubahan dan perkembangan yang
signifikan dari segi pembuatannya. Tahun 868 M, para peneliti menemukan Diamond
Sutta, sebuah buku dengan cetakan paling tua. Tulisan pada buku ini masih
menggunakan huruf seperti huruf Cina (tulisan berderet ke bawah, tidak ke
samping), serta dipenuhi gambar.
Penemuan
dan pembuatan kertas menjadi tonggak perkembangan pembuatan buku. Di Cina,
orang mulai menuliskan karyanya melalui pencetak huruf yang terbuat dari balok
kayu. Perkembangan perbukuan di cina selanjutnya menginspirasi warga Eropa.
Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg yang berkebangsaan Jerman menemukan
cara pencetakan buku dengan huruf-huruf logam yang terpisah. Huruf-huruf itu
bisa dibentuk menjadi kata atau kalimat. Gutenberg kemudian melengkapi ciptaannya
dengan mulai membuat mesin cetak pada abad ke-15. Namun, tetap saja untuk
menyelesaikan satu buah buku diperlukan waktu agak lama karena mesinnya kecil
dan jumlah huruf yang digunakan terbatas. Kelebihannya, mesin cetak Gutenberg
mampu menggandakan cetakan dengan cepat dan jumlah yang banyak.
Teknik
cetak yang ditemukan Gutenberg bertahan hingga abad ke-20 sebelum akhirnya
ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna, yakni pencetakan offset, yang
ditemukan pada pertengahan abad ke-20. Pembuatan mesin cetak oleh Guttenberg
menandai proses awal menuju modernisasi pembuatan buku. Pada tahun 1800 M,
ditemukan mesin pencetak kertas yang memakai tenaga uap dan bisa mencetak 1100
lembar/jam. Selanjutnya, di akhir abad ke-19 ditemukan lagi mesin yang bisa menyusun
6000 kata/jam dan semuanya sekali ketik.
Sebuah
sejarah panjang pembuatan buku, mencerminkan perjuangan panjang manusia dalam
menciptakan karya, mengubah peradaban dari zaman ke zaman. Sekarang, dunia
perbukuan sudah semakin modern, dengan desain yang menarik, berwarna, tata
letak yang bagus, proses pembuatan yang singkat, serta hasil yang banyak.
Berkaca ke masa lalu, betapa membuat tulisan untuk dibukukan itu memerlukan
ketelitian, ketelatenan, kesabaran dan tentu saja pengabdian yang total, dengan
segala keterbatasan sarana. Maka, hargailah buku sebagai sumber ilmu
pengetahuan. Membaca merupakan kunci pembuka kemanfaatan sebuah buku. Dengan
membaca, kita semakin banyak tahu. Semakin banyak tahu, semakin besar kemauan
kita untuk memulai dan mengubah sesuatu menjadi lebih berarti. (Nia Hidayati) sumber referensi : Tell Me When –
Science and Technology; www.pwnulissukses.com; ms.wikipwdia.org
Adanya Perpustakaan
Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari
peradaban dan budaya umat manusia. Tinggi
rendahnya peradaban dan budaya
suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki.
Sewaktu manusia purba mulai menggores dinding gua
tempat mereka tinggal, sebenarnya mereka mulai merekam pengetahuan mereka untuk
diingat dan disampaikan kepada pihak lain. Mereka
menggunakan tanda atau gambar untuk mengekspresikan pikiran dan atau apa yang
dirasakan. Waktu itulah benih
perpustakaan mulai dan keberadaan Perpustakaan itu terjadi secara
cepat setelah di temukannya Mesin Cetak
Gelombang pertama pertumbuhan
perpustakaan terjadi saat manusia mulai menemukan dan menggunakan aksara.
Perpustakaan pertama muncul di Timur Tengah, tepatnya di Syria pada
zaman Raja Azurbanipal sekitar 650 SM. Media tulis masih dalam wujud lempeng
tanah liat, namun telah digunakan cara khusus dalam menata koleksi dan telah
ada petugas khusus yang merawat perpustakaan. Selanjutnya perpustakaan
berkembang seiring dengan perkembangan media untuk menulis, mulai dari kulit
kayu, papirus, kulit binatang, kain, dan kertas.
Gelombang kedua yang mempercepat tumbuh-kembangnya perpustakaan terjadi sewaktu mesin
cetak ditemukan. Penggandaan karya tulis yang semula harus disalin dengan
penulisan tangan, menjadi lebih mudah dengan teknik cetak. Gelombang kedua ini
lebih besar pengaruhnya, terbukti dengan meledaknya publikasi tercetak.
Penyebaran pengetahuan juga lebih cepat dilaksanakan. Pengelolaan perpustakaan
semakin kompleks. Mulai berkembang ilmu dan teknik mengelola perpustakaan.
Refrensi
Ardianto, Elvinaro. Komala,Lukiti. Karlinah,Siti.
Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Bandung : Simbiosa Rekatama Media.
Wikipedia
Jasanya besar juga nih mesin cetak. Harus di kasih apresiasi.
BalasHapusBagus sekali postingannya..
BalasHapusBarangkali ada teman teman yang membutuhkan hiasan dinding yang unik dan bagus dapat mengunjungi web kami di Print Foto di Kayu | WA 0822-1110-9229